Home / Tak Berkategori

Warga Rendu Butowe “Diinjak” Satpol PP Nagekeo

- Reporter

Jumat, 10 Juni 2016 - 23:23

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ibu-ibu korban kekerasan yang diduga dilakukan oknum anggota Pol PP

Ibu-ibu korban kekerasan yang diduga dilakukan oknum anggota Pol PP

Ibu-ibu korban kekerasan yang diduga dilakukan oknum anggota Pol PP
Ibu-ibu korban kekerasan yang diduga dilakukan oknum anggota Pol PP

Zonalinenews-Nagekeo, Penolakan warga tiga desa di Kabupaten Nagekeo atas penunjukan lokasi pembangunan Waduk Lambo oleh Pemerintah Daerah Kepemimpinan Bupati Nagekeo berujung bentrok, gesekan antara masyarakat dan Aparat Satuan Polisi Pamong Praja Nagekeo.

Menurut laporan warga, akibat kejadian ini dua orang ibu, Bibiana Doe dan Maria Sana jatuh pingsan, serta puluhan warga lainnya jatuh dan ada yang terinjak hingga dirawat perawat terdekat.

Rencana pembangunan Waduk Lambo Nagekeo dengan besaran anggaran negara mencapai satu triliun lebih, menurut warga setempat sejak tahapan awal tidak diketahui warga. Masyarakakat terkejut, kata mereka, saat mengetahui Tim Survey sudah berada di lokasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 Menurut pengakuan Wakil Ketua Forum Penolakan Lokasi Waduk Lambo, 6 Juni 2016, atas kebingungan masyarakat, pihaknya membuka komunikasi dengan Lembaga DPRD Nagekeo namun warga mendapat jawaban Lembaga DPRD juga belum mengetahui jelas sebab belum ada pembahasan antara Pemerintah Daerah Nagekeo bersama Lembaga Dewan. Warga tidak sepakat jika demi pembangunan waduk, ratusan hektar pertanian dan peternakan mereka dicaplok oleh Pemda Nagekeo.

Warga Desa rendu Butowe menuturkan pro kontra rencana kebijakan Pemda Nagekeo sudah mencapai praktek kekerasan fisik terhadap masyarakat setempat. Aksi tutup jalan yang dilakukan warga setempat tanggal 6 Juni 2016, dikadoi ancaman verbal oleh Asisten I Laurensius Pono yang mengancam masyarakat dengan ungkapan ‘Kali ini kami pulang, tetapi ingat, kami akan datang lagi dengan cara lain’.

Pasca itu pihak Pemda terus melakukan monitoring lapangan dengan membawa serta regu keamanan, Satpol PP, personil Polisi dan Anggota TNI. Suasana mencekam bagi masyarakat Desa Rendu Butowe hingga berujung insiden tindakan kekerasan regu Satpol PP Nagekeo terhadap warga masyarakat.

Berdasarkan rekaman kejadian video amatir warga, diterima Redaksi media ini 9 Juni 2016, nampak pasukan Satpol PP Nagekeo berseragam lengkap menemui warga di jalan yang tengah ditutup dengan bambu dan batu-batu. Kedatangan pertama, sesuai data video rekaman peristiwa, regu Satpol PP meminta warga membuka jalan karena jalan adalah milik umum dan tidak boleh mengganggu akses transportasi warga masyarakat.

“Kami datang tidak untuk bicara waduk. Kami tidak urus tentang waduk tetapi mau minta kalian pindahkan bambu-bambu dan batu-batu yang ada di tengah jalan ini sebab ini adalah jalan umum. Kalian sendiri yang menaruh batu dan bambu-bambu jadi kalian sendiri harus angkat, sekarang juga”, tegas salah satu Anggota Satpol PP Nagekeo dalam rekaman video.

Atas perintah Satpol PP ini sempat terjadi perang mulut antara warga dan petugas, namun Anggota Satpol PP kembali berkata ‘jika kalian sudah pindahkan batu-batu dan bambu-bambu dari ruas jalan ini, kalian mau tidur di jalan ke, kalian mau gantung di jalan ke, itu urusan kalian, asalkan tidak boleh pagari jalan dengan bambu dan batu-batuan. Satpo PP juga menjamin jika warga membuka blokade jalan, Tim Survey tidak melewati jalur itu menuju lokasi. Atas permintaan warga, regu Satpol PP memberi jaminan sebab kedatangan mereka hanya untuk membersihkan jalan dari blokade bambu dan bebatuan.

Beda dengan video pertama, video kedua menunjukan gambar terang benderang, usai bebatuan dan bambu-bambu dibersihkan warga, regu Satpol PP Nagekeo kembali mendatangi lokasi dan terjadilah benturan langsung sebab tidak seperti kedatangan sebelumnya, kedatangan tahap dua Satpol PP langsung memerintahkan warga dilarang menduduki jalan atau melakukan pagar betis di jalan sebab mau dilakukan survey Waduk Lambo. Insiden tidak terhindar hingga dua ibu jatuh pingsan, puluhan lainnya jatuh terinjak.

Hasil wawancara media ini terhadap warga dan saksi mata 9 Juni 2016, warga menuturkan kronologi kejadian di lapangan. Menurut warga setempat sekaligus saksi mata kejadian, Valentinus Dara menuturkan, kejadian kekerasan regu Satpol PP Nagekeo terhadap warga masyarakat adalah fakta, bukan ceritera bualan.

“Peristiwa terjadi sekitar Pkl.13.00 wita. Puluhan Anggota Satpol PP mendatangi warga di lokasi. Jumlah warga sekitar 60 orang, diantara itu terdiri dari puluhan Ibu-Ibu. Tempat kejadian di Rendu Botawe. Sejak pagi hari warga sudah duduki lokasi jalan tempat sebelumnya di blokir. Pada hari itu bambu atau batu tidak lagi berada di lintasan jalan sebab sebelumnya Pol PP sudah pastikan menjamin bahwa mereka datang hanya untuk membersihkan bambu dan bebatuan yang dipakai warga memblokir jalan. Tidak ada niat lagi untuk urusan waduk.

Kehadiran Pemda Nagekeo pada hari itu dipimpin oleh Asisten I Pemkab Nageko, Laurensius Pone bersama Konsultan atau Tim Survey, didampingi 2 personil Polisi dan sekitar 9 Anggota TNI dan puluhan Anggota Satpol PP. Aasisten I Laurensius Pone mampir di Kantor Desa Rendu Butowe sedangkan regu Satpol PP bersama anggota Polisi dan TNI menuju lokasi. Setibanya di lokasi tempat warga berdiri melakukan pagar betis dilarang masuk ke daerah rencana pembangunan waduk, beberapa puluh meter dari barisan warga, regu Satpol PP menggelar siaga, baris-berbaris lalu mengeluarkan perintah segera buka jalan. Teriakan perintah Satpol PP tidak diikuti warga dan warga berteriak sekali tolak tetap tolak. Lalu barisan Satpol PP menghitung satu, dua, tiga dan serentak maju menerobos barisan warga yang didalamnya terdapat ibu-ibu warga penolak lokasi Waduk Lambo.  Atas peristiwa ini dua orang ibu bernama Bibiana dan Maria Sana terbentur fisik Anggota Satpol PP hingga jatuh pingsan, sementara puluhan warga lainnya berjatuhan, ada yang kena injak dari Anggota Satpol PP. Setelahitu Kepala Desa dan tokoh masyarkat datang melerai dan bubar, sebagian lainnya menuju Kantor Desa. Para korban langsung dibawah ke rumah dan dirawat oleh perawat terdekat”, tutur Valentinus Dara. (*wrn)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Momen Petugas Medis IGD RSUD Menia Sabu Raijua Kelelahan Saat Kerja Viral di Media Sosial
Hari Ini, Sebanyak 428 Siswa di Kota Kupang Ikut UN Paket C
DPW MOI NTT Gandeng IKIF Gelar Pelatihan Jurnalistik
Dede Kusdinar Caleg Gerindra Sementara Raih Suara Terbanyak di Dapil Jabar 14
Pj. Bupati Garut Lanching 4 Proyek Infrastrukturnya Jalan
Begini Kata Warga Saat Disambangi Babinsa Serka Charlens Mali
Babinsa Bersama Bhabinkamtibmas Bersinergi Komsos Dengan Warga
Tim Pemenangan Dede Kusdinar Doa Bersama atas Kemenangan Suara Terbanyak di Dapil Jabar 14
Keluarga Almarhum Roy Bolle Minta Ketua PN Kupang Ganti Majelis Hakim Ketua Florence Katerina
Tahapan Pemilu Masih Berlangsung, Tokoh Agama di TTS Imbau Warga Jaga Kamtinmas
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terbaru

Kupang

DPW MOI NTT Gandeng IKIF Gelar Pelatihan Jurnalistik

Selasa, 20 Feb 2024 - 21:55

Slot Gacor Gampang Menang Dengan RTP Live Tertinggi