Anak Kampung Yang Memilih Jalannya Sendiri

- Reporter

Jumat, 29 Januari 2016 - 06:25

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Matheos Viktor Messakh

Matheos Viktor Messakh

Matheos Viktor Messakh
Matheos Viktor Messakh

Zonalinenews, Banyak orang senang menjadi pengekor atau pengikut, namun sepanjang jalan hidupnya Matheos Viktor Messakh, lebih suka memilih jalannya sendiri, membuka jalan bagi orang lain dan menjadi pelopor walaupun seringkali langkahnya tidak disukai.

Matheos lahir di Ba’a, Pulau Rote pada 30 Juni 1973. Ia merupakan anak kedua dari pasangan Benjamin Messakh, BA (almarhum) dan Loudya Messakh-Lenggu. Sang ayah adalah seorang pegawai negeri sipil yang saat itu bertugas di Kantor Pembantu Bupati Wilayah Rote-Ndao dan sang ibu adalah seorang guru SD.

Tugas orang tuanya sebagai PNS membawa Matheos berpindah-pindah mengelilingi beberapa tempat. Sejak berusia enam bulan Matheos dan kakak sulungnya dititipkan pada kakek nenek dari garis ibu di desa Mukekuku, kecamatan Rote Timur. Di situlah ia mendapatkan nama panggilan ‘At’. Namun karena kakaknya, Besly, sering menyebutnya dengan ‘Atu.’ “Atu kemudian berubah menjadi Atok atau Ato. Bapa saya lebih suka panggil saya ‘Atok’, bahkan kadang panggil ‘Ngatok’”, katanya mengenang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pendidikan dasar ia selesaikan di beberapa tempat antara lain di SD GMIT Oeulu dan SD Inpres Lalao di Kecamatan Rote Timur; SD Negeri Batuplat di Kecamatan Kupang Barat dan SD Inpres Merdeka di Kecamatan Kupang Timur. Karena mengikuti orang tua yang berpindah-pindah, pendidikan SMP juga di selesaikan di dua tempat yaitu di SMP Negeri Oesao dan SMPN 2 Kupang. Pendidikan SMA dilalui di SMA Negeri 1 Kupang dan SMAN 2 Kupang.

Selepas SMA Matheos melanjutkan kuliah di Fakultas Theologi-UKAW Kupang pada tahun 1991 dan disanalah ia banyak ditempa dalam aktifitas berorganisasi antara lain pernah menjabat sebagai pengurus Senat Mahasiswa Fakultas Teologi, dan kemudian menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas pada tahun 1996-1998. Ketertarikannya terhadap politik bukanlah hal yang baru. Hal ini ditunjukkan dengan skripsi untuk memenuhi Sarjana Teologinya di 1998 dengan judul ‘Agama dan Sikap Politik: Suatu Analisis Tentang Sikap Politik Warga GMIT Perkotaan Menurut Pandangan Max Weber.’ Kerja skripsi ini merupakan bagian dari refleksinya saat itu sebagai mahasiswa.

Saat-saat menunggu diwisuda sebagai sarjana Teologi adalah saat yang menentukan dalam hidup Atok. Pada saat itu Reformasi 1998 bergulir dan dalam posisi sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas, Atok berdiri di garis depan memimpin mahasiswa di Kota Kupang dalam berbagai aksi. “Semua mahasiswa di Kupang yang bergerak di tahun 1998 pasti ingat momentum kita bergerak, di tengah tentangan pihak-pihak yang mapan, pemerintah dan pihak keamanan. Saya ingat saya sebagai mahasiswa teologi saat itu berkhotbah di atas mimbarpun ditunggui intel. Untunglah kami selamat,” kata wartawan yang ulang tahunnya berpaut sehari dengan Ahok ini.

Saat hiruk-pikuk reformasi berlangsung, Atok telah bergabung dengan LSM Pusat Informasi dan Advokasi Rakyat (PIAR) NTT dibawah pimpinan Sarah Lerry Mboeik. Di PIAR ia menapaki karir dari notulis sampai dipercayai mengepalai Divisi Informasi dan Publikasi. Dalam kapasitas itulah Atok bersama beberapa orang rekannya mendirikan Tabloid Advokasi UDIK yang kemudian memenangkan beberapa penghargaan media alternatif tingkat nasional. Selepas PIAR, Atok sempat bergabung dengan Yayasan Afnekan Kupang dan menerbitkan majalah Sulat Timor di bawah naungan Sinode GMIT. Majalah ini mendapat sambutan yang kontroversial karena banyak meliput tentang masalah-masalah dalam sinode dan jemaat-jemaat GMIT. “Kami jalan saja walaupun ada tentangan yang besar dari kaum mapan dalam gereja. Tapi sambutan dari jemaat awam juga luar biasa,” kata Atok.

Pada tahun 2003 setelah kurang lebih lima tahun bekerja di dunia LSM, Matheos mendapatkan beasiswa untuk meneruskan studi di Inggris di bidang jurnalisme pada The Nottingham Trent University.

Sekembalinya dari Inggris pada tahun 2005, Atok bergabung dengan Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor Leste yang lebih dikenal dengan singkatan bahasa Portugisnya CAVR. Setahun lamanya ia bekerja dalam tim CAVR untuk menyelesaikan Laporan Akhir Komisi menyangkut pelanggaran HAM di Timor-Leste sejak tahun 1975-1999. Laporan ini kemudian diserahkan ke PBB.

Setelah CAVR, Atok pindah ke Jakarta dan memulai karir sebagai reporter pada harian berbahasa Inggris The Jakarta Post. “Di The Jakarta Post-lah saya belajar banyak hal tentang manajemen dan mendapatkan pengalaman-pengalaman yang tidak saya bayangkan sebelumnya dalam liputan-liputan saya tertutama liputan-liputan ke luar negeri,” kata mantan editor olahraga ini.

Setelah empat tahun bergabung dengan The Jakarta Post, Atok telah menapaki jejang editor namun ia memilih untuk berhenti. “Saya memilih untuk pulang Kupang, namun sebelumnya saya pergi Leiden untuk belajar sejarah,” jelasnya. Atok nekad untuk melamar sebuah beasiswa yang diperuntukkan bahwa peserta dengan usia maximum 30 tahun padahal usianya telah memasuki 39. Beasiswa itu ditawarkan dengan skema tahun pertama, Bachelor; tahun kedua Master dan tiga tahun selanjutnya PhD. Walaupun usia berpaut jauh, ia diterima bersama tiga orang Indonesia lain untuk belajar di Universitas Leiden. “Saya tidak tahu mengapa saya diterima, saat diwawancarai seorang profesor dari Leiden mengatakan ‘saya bagaikan Magelhaens yang menemukan sebuah benua baru’, ” tutur Atok.

Thesis BA-nya diselesaikan dengan memuaskan dengan menulis tentang ‘Perang Penfui, 9 November 1749’. Menyelesaikan studi tahun pertama dengan nilai terbaik kedua, membuatnya berhak untuk studi selanjutnya ke jenjang doktoral. Namun Atok justru memutuskan untuk pulang. Ia masih tidak bisa memboyong anak dan istrinya ke Negeri Kincir Angin. Segala upaya ia lakukan untuk menaikkan jumlah beasiswa dilakukan namun patokan beasiswa telah demikian adanya. Pihak pemberi beasiswa bahkan menawarkan baginya untuk menyelesaikan studi selanjutnya dengan sistem sandwich antara UGM dan Leiden, namun ia memilih untuk pulang.

“Saya masih bisa bersekolah di mana saja, tapi saya tak mau kehilangan masa kecil anak-anak saya. Terlalu mahal harganya, kata ayah dari Tiadea Radakaran Isaiah Messakh (6) dan Rubamuri Zemira Messakh (4) ini. Bulan September 2013 ia tiba di Kupang berkumpul kembali dengan istri dan kedua anak laki-lakinya yang saat itu baru berusia 4 dan 2 tahun.

Baru sebulan berada di Kupang, sang istri Ferderika Tahu Hungu mendapat tawaran pekerjaan di Waingapu dan keluarga Messakhpun pindah ke Waingapu. “Bagaikan keluarga Abraham atau Yakub, ke manapun Tuhan memperkenankan kami pergi kami akan mencabut tenda kami dan berangkat,” kata Ato dengan senyum.

Di Waingapu, selain bekerja sebagai penulis Atok bertugas mengasuh kedua anaknya sementara istri bekerja. “Soal mengurus anak itu saya belajar banyak hal. Pameo bahwa laki-laki tidak bisa urus anak itu bohong besar,” kata Atok.

Selain menjadi penulis lepas, ia bersama beberapa penulis lainnya mendirikan sebuah media online Satutimor.com, sebuah portal berita yang berkonsentrasi pada berita Feature dan sejarah lokal Nusa Tenggara Timur. Media ini hadir untuk menampung suara intelektual dari berbagai penjuru, tidak hanya penulis asal NTT, tetapi juga diaspora Indonesia yang berada di berbagai pelosok dunia.

Berpolitik Independen

Di Waingapu, Atok hadir sebagai intelektual organik dalam masyarakat sipil. Ia bergaul dengan para tokoh komunitas seperti Heinrich Dengi pengelola stasiun radio MaxFm. Atok adalah salah satu analis politik tetap di sana, dan ulasan rutinnya mendapat tempat di hati banyak pendengar radio. Ia juga mengasuh sebuah acara Pemahaman Alkitab kontekstual yang dipancarkan life seminggu sekali.

Pengalamannya untuk terlibat dalam dunia politik, bukan lah baru. Dalam Pilkada di Sumba Timur tahun 2014 ia adalah ketua tim pemenangan pasangan Henrich Dengi dan Stepanus Makabombu. Keduanya adalah calon indipenden di Sumba Timur yang gagal bersaing karena tak mampu memenuhi target pengumpulan KTP. “Waktu itu waktunya terlalu sempit, saat itu KMP dan KIH masih bertikai di DPR, dan undang-undang itu belum sempat direvisi, sehingga tidak cukup waktu untuk kumpulkan KTP, andaikan waktunya cukup kami pasti bisa kumpulkan KTP,” jelasnya.

Setelah pekerjaan sang istri bersama dengan sebuah LSM internasional selesai, keluarga Messakh kembali ke Kupang pada akhir Desember 2015.

Atok mengatakan ayahnya, almarhum Benjamin Messakh, banyak memberinya inspirasi tentang bagaimana menjadi pelayan masyarakat yang tidak mementingkan diri dan mencari untung untuk diri sendiri. “Ayah saya memberi saya banyak contoh dan ajaran selama hidupnya sebagai pamong praja. Jujur bersih sampai akhir hayatnya, sehingga kepala kami anak-anakpun tetap tegak ketika kami ke manapun. Kami tidak pernah malu mempunyai ayah mantan pejabat yang miskin,” kata Atok.

Atok mengatakan ia tidak heran jika ia ditolak di kota dimana ia dibesarkan atau ditolak karena ia terhitung muda. “Yesus sendiri ditolak di Nazaret kampung halamanNya,” kata Atok.

Membaca alur hidupnya kita bisa tahu Atok tidak pernah pensiun sebagai aktivis yang berumah di atas angin, ia jelas-jelas tak tergiur dengan status yang mapan. Satu-satunya kemapanan untuknya mungkin adalah janji untuk terus bergerak dan memenuhi panggilan publik. Salah seorang dosen di Fakultas Teologi, pernah mengatakan bahwa karakter Atok mengingatkan kita akan Musa, pemimpin yang tegas, kukuh pada tujuan bersama dan selalu menjadi pelopor di mana banyak orang tidak mau mengambil resiko. (*tim)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Siswi SD Kupang Montessori School Chintya Nalle Runner UP II Mini Miss Star Global Indonesia 2023
Bawa 8 Lagu, Andmesh Kamaleng Kembali Hibur Warga Kota Kupang 
Nadin Amizah Hipnotis Ribuan Penonton di Kota Kupang Dengan Lagu Rayuan Perempuan Gila
Jejak Rekam Tokoh KH. Prof. Dr. Nasaruddin Umar
Sikap Rendah Hati, Kapolsek Metro Setiabudi Cium Tangan Warga Disabilitas
Sedih Lorong Ditutup Tetangga Sendiri Janda di Kota Reinha-Larantuka 3 Tahun Terlunta di Kontrakan
Mengenang Hari Arwah Masyarakat Desa Lewolaga Siarah Ke Pemakaman Umum
Putra Kota Ende Naikan Bonus Per Gol Untuk Laga Final ETMC Lembata
Berita ini 3 kali dibaca
Tag :

Berita Terbaru

Kupang

DPW MOI NTT Gandeng IKIF Gelar Pelatihan Jurnalistik

Selasa, 20 Feb 2024 - 21:55

Slot Gacor Gampang Menang Dengan RTP Live Tertinggi