ANAK DESA FATILLO “CUKUPKAN PENDIDIKAN BAGI KAMI”

- Reporter

Jumat, 26 Mei 2017 - 13:40

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Makret Bin 13 thn sebelah kanan dan Rivan Tanone 12 thn sebelah kiri warga desa Fatillo

Makret Bin 13 thn sebelah kanan dan Rivan Tanone 12 thn sebelah kiri warga desa Fatillo

Makret Bin 13 thn sebelah kanan dan Rivan Tanone 12 thn sebelah kiri warga desa Fatillo
Makret Bin 13 thn sebelah kanan dan Rivan Tanone 12 thn sebelah kiri warga desa Fatillo

Zonalinenews-Fatillo,-  Pendidikan kini semakin jauh dari generasi muda desa fatillo dan cita-cita pun semakin hilang dalam diri mereka.

Saat dijumpai dikediamanannya, RivanTanoneDulu saya sekolah tapi uang sekolah tidak lunas dibayar, makan sehari-hari pun susah jadi saya keluar dari sekolah untuk kerja.  Mau harap siapa lagi…? Kalau ada pendidikan gratis pasti saya sudah gapai cita-cita saya,” ucap Rivan 12  thn berprofesi sebagai pemulung dari desa Fatillo Rabu, 24 Mei 2017.

Kondisi  ini dirasakan  beberapa  anak di desa Fatillo daerah AYOTUPAS terletak di kecamatan Amanatun Utara, Kabupaten TTS merupakan salah satu desa terisolir di NTT. Dilihat dari keadaan masyarakat sekitar bagi mereka hal ini telah menjadi bagian hidup, putus sekolah bukanlah hal yang baru jika dibicarakan dalam lingkungan desa Fatillo dengan kondisi wilayah terpencil sehingga minimnya  perhatian pemerintah dan hal ini meruapakan suatu  kenyataan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fatillo salah satu dari desa terpencil yang berada dalam wilayah TTS, mengungkap banyak misteri ketertinggalan untuk bersaing dengan daerah lain di NTT, terutama dalam Aspek Pendidikan.

Petua desa Fatillo, Zet Liunome mengatakan, dirinya tidak bersekolah dari kecil dan yang dilakukan adalah merantau ke Kupang.  “ Usia saya saat itu 10 thn, ditempat kerja saya masih banyak juga yang kerja ada Usia 8 thn, 12 thn, 14 thn.  Kita kerja dengan orang jawa cari besi tua timbang dan dapat uang untuk makan sehari-hari terus sisanya ditabung.”ujarnya.

Kondisi ini menjadi budaya baru yang menakutkan, generasi muda terlepas dari pantauan semua instansi terkait membuat hilangnya jati diri sebagai tulang punggung Negara. Dari hal seperti ini pemerintah diharapkan jelih melihat dan merespon persoalan tersebut karena membangun daerah sama hal membangun masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah provinsi NTT melaksanakan berbagai program pemberdayaan masyarakat untuk mewujudkan kemandirian dan kesejaterahan masyarakat secara merata dan berjangka panjang tanpa terkecuali untuk aspek pendidikan yakni Kartu Indonesia Pintar.

Akan tetapi, kenyataan tidaklah  menjamin secara keseluruhan untuk setiap usia sekolah termasuk generasi yang ada di desa Fatillo.

Hal serupa juga dikatakan oleh Makret Bin. “ Biarpun saya tidak bersekolah, tetapi saya ingin agar di desa ada sanggar belajar , taman baca bagi anak seusia saya seperti di kota Kupang. Supaya saya juga bisa belajar biarpun uang saya tidak ada.”ucapnya, dibalik kesibukan mendorong gerobak penampung besi tuanya.

Mendapatkan pendidikan,  merupakan mimpi yang selalu melekat pada generasi muda masyarakat daerah terisolir dan jauh dari perhatian pemerintah. Sampai saat ini, kebijakan pemerintah belum menuntaskan  persoalan ini.

 “ Saya sudah menjadi guru selama 8 tahun diwilayah Ayotupas.  Kalau dari mata saya, jarak sekolah dari desa jauh. Dan juga kekurangan banyak fasilitas belajar untuk Usia sekolah ataupun PAUD.  DisinidekatdesaFatilloada SMP,  tetapi itu swasta dari pihak gereja banggunannya baru 3 kelas. Dari pihak pemerintah kalau boleh datangkan guru-guru sukarela untuk mendidik anak-cucu kami meskipun belum ada banggunan.”ungkap salah satu guru,  TaneTafunimantan.

Secara spesifik menjadi tugas utama pemerintah menciptakan perubahan ditengah-tengah masyarakat kalangan bawah, dalam pencapaian kemandirian dan kesejaterahan kedepannya.Terutama dalam dunia pendidikan agar terciptanya pendidikan GRATIS, ILMIAH dan DEMOKRATIS.Sehingga terjadinya pemerataan pendidikan di Indonesia bagi desa-desa terisolir, agar membantu mencerdaskan kehidupan bangsa.Sehingga tidaklah lazim, jika masyarakat meminta campur tangan pemerintah untuk menjawab harapan mereka.

“ Kami hanya bisa menunggu dan menunggu bapak-bapak pemerintah berkunjung untuk melihat kami, sehari saja bersama kami. Pasti semua terlaksanakan karena pemerintah adalah wakil ALLAH,’ ungkapan  Zet Liunome.(*Hetorida)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Dukung UMKM Kaum Muda di Kota Kupang, Standard Chartered dan Plan Indonesia Gelar Business Meet Up Event
Pengembangan Jaringan Indosat di NTT Mengalami Peningkatan 3,7 Kali Lipat
Sebanyak 200 Warga Kurang Mampu di Kabupaten Flotim Dapat Bantuan Listrik Gratis Dari PLN NTT
KAI Commuter Terus Lakukan Inovasi Sistem Keamanan Bagi Penumpang
Melianus Atakay SST, MT Mengucapkan Selamat Idul Fitri 1444 Hijriah
Polres Alor tetapkan SS sebagai Tersangka Kasus Penganiayaan Ketua DPRD Kabupaten Alor
Dilaporkan Dugaan Tindak Pidana Pencurian, Sekwan Alor Klarifikasi Pengambilan Mobil Dinas Sesuai Aturan
Ojol Kajek Hadir di Kota Kupang, Tarif Terjangkau dan Murah
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terbaru

Kupang

DPW MOI NTT Gandeng IKIF Gelar Pelatihan Jurnalistik

Selasa, 20 Feb 2024 - 21:55

Slot Gacor Gampang Menang Dengan RTP Live Tertinggi