oleh

Eksekusi Tanah Danau Ina, Ahli Waris Victoria Anin Gugat Esau Konay CS

ZONALINENEWS.COM, KUPANG – Kuasa hukum dari ahli waris Victoria Anin, melayangkan gugatan perkara perlawanan/bantahan (derden verzet) eksekusi tertanggal 12 Maret 1996 dengan objek tanah Danau Ina. Perkara tersebut teregister dengan nomor: 171/Pdt.Bth/2022/PN Kpg tertanggl 8 Juli 2022.

“Telah didaftarkan sebuah gugatan perlawanan eksekusi terhadap Esau Konay dan para ahli warisnya ada tujuh orang sebagai terlawan satu sampai terlawan tujuh. Telah terdaftar di Pengadilan Negeri Kupang Nomor: 171/Pdt.Bth/PN Kupang. Baru saja didaftarkan tanggal 8 Juli 2022,” kata Yafet Rissy, kuasa hukum penggugat Yaved Kolloh, Victoria Obehetan, Tidoris Frans Samadara dan Adriana Samadara kepada wartawan, Selasa 12 Juli 2022 di Kupang.

Dijelaskan, perlawanan ini penting dilakukan karena pada tahun 1991, ahli waris dari Victoria Anin, Pelipus Kolo dan Daniel Yusuf Samadara mendaftarkan permohonan eksekusi terhadap putusan Nomor 8 tahun 1951 jo putusan nomor 63 tahun 1955 tanggal 31 Agustus 1955. Di mana, dalam perkara itu objeknya adalah tanah Danau Ina dan Pagar Panjang.

Dalam putusan perkara Nomor 8 tahun 1951, penggugat waktu itu adalah Victoria Anin melawan Bertolomeos Konay. Pada tingkat Pengadilan Swapraja, Victoria Anin memenangkan gugatan tersebut. Lalu Banding pada Pengadilan Tinggi di Denpasar-Bali menguatkan keputusan Pengadilan Swapraja.

“Bertolomeos Konay tidak puas, dia Kasasi. Register perkara nomor 63 tahun 1953. Perkara ini diputus dua tahun kemudian tanggal 31 Agustus 1955. Jelas sekali dalam putusan itu bahwa yang memenangkan perkara tersebut adalah Victoria Anin. Lalu pada tahun 1991, Daniel Yunus Samadara dan Pelipus Kolo mengajukan permohonan eksekusi tidak ditanggapi oleh pengadilan negeri pada waktu itu. Karena tidak ditanggapi, maka Daniel Yunus Samadara dan Pelipus Kolo menulis surat ke Mahkamah Agung mempersoalkan kelanjutan permohonan eksekusi kenapa tidak dijalankan.
Atas surat itu, Mahkamah Agung menulis surat kepada pengadilan tinggi (voorpost) dan meminta agar menindaklanjuti permohonan itu kenapa sampai tidak dilakukan eksekusi. Kemudian ketua pengadilan waktu itu menindaklanjuti surat permohonan Pelipus Kolo dan Daniel Yunus Samadara dan juga voorpost dari Mahkamah Agung agar ketua pengadilan saat itu segera memberi laporan kepada Mahkamah Agung sejauhmana permohonan eksekusi atas perkara nomor 8 tahun 1951″, ungkap Yafet.

“Atas dasar surat dari Pelipus Kolo dan Daniel Yunus Samadara sebagai pemohon eksekusi atas perkara nomor 8 tahun 1951, ditindaklanjuti oleh ketua pengadilan negeri dengan melakukan pemeriksaan setempat. Yang melakukan pembayaran biaya pemeriksaan setempat adalah Pelipus Kolo dan Daniel Yunus Samadara. Sebagaimana kita ketahui berdasarkan Yurisprudensi Mahkamah Agung, jika dalam menangani sebuah perkara atau sengketa, hakim boleh memilih melakukan pemeriksaan setempat untuk memastikan batas-batas tanah dan untuk membantu hakim dalam menyelesaikan sebuah perkara,” kata Yafet.

Diterangkan, peta yang dipakai untuk melakukan pemeriksaan setempat bukan peta baru. Tapi peta yang merujuk pada pemeriksaan ulang yang dilakukan Victoria Anin bersama vetor Amabi dan pemilik tanah adat yang berbatasan langsung dengan tanah Danau Ina antara lain Sabaat, Adu Hilli, Kolo Et Uf, Isliko, Anin, Sine dan Mboli.

Dibeberkan, permohonan eksekusi dilakukan oleh Pelipis Kolo dan Daniel Yunus Samadara sebagai ahli waris dari Victoria Anin. Namun, berita acara eksekusi tahun 1996 tertanggal 12 Maret 1996, jelas dikatakan bahwa objek sengketa tanah Danau Ina yang dieksekusi itu diserahkan kepada Esau Konay dan didalam kurung ditulis ahli waris penggugat.

“Saya mau tanya, ahli waris penggugat itu siapa? Siapa Esau Konay? Esau Konay bukan pihak dalam perkara nomor 8 tahun 1951. Ahli waris penggugat itu adalah Pelipus Kolo dan Daniel Yunus Samadara. Mengapa permohonan eksekusi dilakukan oleh Pelipus Kolo dan Daniel Yunus Samadara, kenapa saat penyerahan itu diserahkan kepada Esau Konay sebagai ahli waris penggugat. Dia statusnya sebagai ahli waris penggugat dari mana? Esau Konay bukan ahli waris dari Victoria Anin. Dia ini bukan ahli waris dari penggugat. Dia ini anak sumbang kalau dalam bahasa Perdata. Anak di luar kawin. Anak ini tidak punya hak mewarisi dari orang tuanya. Hukum Perdata Belanda bilang begitu. Kalau dia bilang ahli waris, ahli waris dari mana,” tanya Yafet.

Kalau demikian, penyerahan objek eksekusi tanah Danau Ina kepada Esau Konay bisa dipertanggungjawabkan secara hukum? Artinya, eksekusi telah dilakukan oleh pengadilan dan objek diserahkan kepada Esau Konay, itu salah. Ada error in persona. Selain itu, Esau Konay tidak punya legal standing untuk menerima warisan itu.

“Dengan demikian, penyerahan objek eksekusi oleh pengeksekusi waktu itu salah secara person. Menyerahkan kepada pihak yang bukan pemohon eksekusi dan juga bukan pihak yang merupkan ahli waris dari Victoria Anin. Ini kesalahan yang sangat fundamental yang dipelihara, dijaga kerahasiaannya selama berpuluh-puluh tahun,” tegasnya.

Terpisah, salah satu ahli waris Esau Konay, Marthen Konay yang dikonfirmasi, Rabu 13 Juli 2022 menerangkan, sebagai tergugat perlawanan telah didatangi Pengadilan Negeri Kupang dengan membawa relaas PN Kupang bahwa ada gugatan.

“Saya sudah tanda tangan tadi. Intinya pengalaman perkara kita yang namanya Pengadilan Negeri Kupang walaupun objeknya sudah ada perkara, sudah ada eksekusi pengadilan tidak boleh menolak siapaun yang datang dengan upaya gugatan atau upaya hukum lain. Saya juga menghargai itu. Tetapi saya optimistis kita tetap hadapi perkara tersebut,” katanya.

Menurut Marthen, eksekusi objek yang digugat khusus tanah Danai Ina. Sementara ada resume dari PN Kupang, pada saat eksekusi tanah keluarga Konay yang menjadi warisan dari Yohanis Konay I ada tiga bidang. Yakni tanah Danau Ina, tanah Pagar Panjang dan tanah pantai.

“Kalau gugatan ini menurut Kolo dia gugat hanya Danau Ina saja, alasan apa sampai dua objek itu tidak gugat. Karena eksekusi ini dilakukan tahun 1996. Lalu tahun 1997 baru eksekusi tanah Pagar Panjang. Kalau sekarang di tahun 2022 ini baru muncul register nomor 171 terhadap tanah Danau Ina, coba pikir kembali, mereka buat peta satelit, mereka menguasai objek itu secara keseluruhan di tahun 2017. Kolo sudah berulang kali gonta ganti kuasa hukum dari luar daerah dan cukup banyak,” katanya.

Dijelaskan, objek Danau Ina dalam perkara nomor 65 tahun 1993 sudah inkracht dengan penggugat Esau Konay dan tergugat Pelipus Kolo dan Daniel Yunus Samadara.

“Yang tereksekusi adalah Piet Konay karena dia yang menguasai objek dan bagi-bagi ke pemda dan semua masyarakat. Kalau dalam perkara tahun 1993, Samadara dan Kolo atau sekarang pengugat dalam register 171, pada saat itu merasa ada eksekusi oleh pengadilan, lakukan derden verzet. Buat perlawanan eksekusi, bukan eksekusi sudah mau 30 tahun baru menolak eksekusi,” katanya. (*hayer)

Penulis: zonaline news

Gambar Gravatar
Alamat Redaksi : Jalan Adisucipto Kompleks Perumahan RSS Oesapa Kota Kupang Blok P No 2 NTT

News Feed