oleh

Blunder, PADMA Beberkan Reschedule Dan Restrukturisasi BPR Ke Debitur Tertentu Meski, Pinjaman Sebelum Covid-19 Ada Apa?

ZONALINENEWS.COM, LARANTUKA – Direktur Lembaga Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (Padma) Indonesia, Gabriel Goa menyoroti sikap arogan dan terkesan pilih kasih yang dimainkan oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Usaha Dana Larantuka Kabupaten Flores Timur – Nusa Tenggara Timur ketika mengetahui sebelumnya telah 2 kali mereskedul dan merestrukturisasi terhadap pinjaman salah seorang pimpinan OPD di Larantuka karena terdampak covid 19 sementara berkali-kali terhadap permohonan yang sama oleh Ricardus Riky Leo diabaikan.

Tdak diakomodirnya permintaan Leo sejak setahun silam, BPR berkoar dengan alasan debitur tersebut melakukan peminjaman sebelum pandemi covid melanda dunia.

Penjelasan demikian dari pihak BPR, memantik reaksi keras Padma Indonesia yang kini mendampingi Leo

Bagaimana tidak fakta alasan seperti di atas, tidak diberlakukan kepada pimpinan OPD bersangkutan kendati melakukan pinjaman sejak tahun 2016 silam di mana masih jauh dari zona covid-19.

Perlakuan tersebut tentu menimbulkan pertanyaan miring. Ada apa BPR dengan debitur lain?

“Pimpinan OPD juga mengalami hal yang sama reskedul dan restrukturisasi kenapa debitur lain tidak bisa alasannya apa? Apakah hanya beliau Kaban saja?” tanya Direktur Lembaga Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (Padma) Indonesia, Gabriel Goa sengit kepada wartawan, Senin 8 Desember 2021.

Sebelumnya, pengakuan Debitur Ricky Leo usai melakukan pimjaman kepada BPR. Selama beberapa bulan pertama, angsuran berjalan lancar.

Mulai mengalami kemacetan sejak Leo mendapat kecelakaan bersamaan dengan melandanya covid-19.

Tentu saja, insiden ini berpengaruh pada income debitur. Kendati demikian, BPR tidak memberikan ruang reskedul, sudah tentu semakin memberatkan nasabah dalam hal pengembalian angsuran.

Jauh hari sebelum jatuh tempo, BPR ngotot melakukan sita terhadap barang jaminan berupa rumah tinggal dengan memasangkan plang sita jaminan (Belakangan pengakuan BPR ke Padma bahwa pemasangan plang tersebut bersifat pengawasan).

Merasa ada kesalahan prosedur dari pemasangan plang tadi, Ricky melakukan gugatan ke pengadilan. Hasilnya Leo dinyatakan kalah.

Memperjuangkan hak dan keadilan, Leo melakukan gugatan untuk kedua kalinya. Sayang sekali putusan pengadilan menolak gugatanya.

Polemik Leo dan BPR belum berakhir. Saat ini pinjamanya telah jatuh tempo. Rumah tempat tinggalnya bersama keluarga terancam disita.

Menurut Leo, dirinya bukan sama-sekali tidak membayar, melainkan dia masih mampu membayar cicilan angsuran namun tidak sebesar seperti yang tertera dalam akad perjanjian kredit.

Tentu saja, hal tersebut bisa terwujud jika permintaan reskedul dan restrukturusasi diamini BPR. Tetapi, seperti yang kita ketahui, BPR menolak melakukan hal serupa terhadap Leo dengan alasan pinjaman Leo sebelum hadirnya covid.

Jauh hari, Selasa 24 Maret 2020, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan berbagai kemudahan kepada sejumlah sektor usaha dan masyarakat yang terkena dampak dari wabah virus corona (Covid-19).

Kemudahan ini diberikan Kepala Negara setelah mendengar berbagai keluhan dari kalangan pelaku usaha, mulai dari pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), hingga tukang ojek dan supir taksi. Sebelumnya, pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga sudah memberikan kelonggaran kepada debitur perbankan melakukan reskedul dan restrukturisasi kredit bermasalah.

Amat disayangakan kepada debitor lain BPR menawarkan dan memberi reskedul dan restrukrisasi tetapi tidak untuk Ricardus Riky Leo.

(*Rit/Ted)

News Feed