oleh

Saluran Irigasi 713 Meter di desa Tuakole Dibangun Tanpa Pondasi

Zonalinews-TTS,- Bangunan irigasi persawahan di desa Tuakole Kecamatan Batuputih kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sepanjang 713 Meter dibangun tidak menggunaan pondasi. padahal bila dibangdingkan dengan pembuatan kandang babi masih menggunakan pondasi jalur atau umpak.

“Masa bangunan bangunan irigasi persawahan dibangun tidak menggunkan pondasi dan ini fakta lapangan, padahal kandang babi tekanan beban yang diterima konstruksi dan disalurkan ke tanah tidak seberapa namun ada pembebanan dan agar kokoh kanstruksi pondasi sangat sangat penting,” salah satu pesawah di desa Tuakole kata Djony.

Menurutnya Djoni, sejak diresmikan bangunan irigasi tersebut pada bulan Januari dan serah terima bulan Februari dan mulai dialiri air kondisi banguna irigasi retak, patah serta hancur berantakan pada bulan maret 2021.

Kini, saluran irigasi yang sedianya akan mengairi areal persawahan seluas 8 ha, tak ayaknya bagai bangunan tua yang butuh direnovasi segera. kondisi lantai irigasi yang pecah memanjang sepanjang irigasi dengan sistem kerja susun baru dan dimpeli campuran setebal 1 cm.

Pantaun wartawan, retakan dan patahan dimana-mana hampir diseluruh pasangan saluran.
Terlihat tanah sawah retak dan pecah karena tak tersentuh air menjadi pemandangan yang unik tatkala melihat langsung kondisi yang ada.

“Gagal panenpun di depan mata,” ungkap warga Desa Tuakole Sahertian.

Kini 18 pesawah pasrah pada kondisi bangunan irigasi yang menelan dana sebesar 396 jutaan rupiah yang bersumber dari Dana Desa tahun 2019 dan pelaksanaan pekerjaan tahun 2020, selesai dan diserah terimakan tepatnya di bulan januari 2021.

Untuk mengakali dengan sisa-sisa harapan petani desa Tuakole, minimal dapat memperoleh kembali benih padi, masyarakat pesawah berusaha memperbaiki titik saluran yang jebol secara manual dan alakadarnya untuk dapat menyelamatkan padi yang masih dapat diselamatkan walau harapan itu penuh kecemasan karena air hanya mampu melayani 2 ha sawah dan sisanya harus direlakan untuk gagal.

Dengan alat dan bahan sederhana, pesawah memperbaiki saluran dan berharap semoga retakan dan patahan yang hampir disepanjang saluran tidak roboh sebelum masa panen.

“Bila harapan itu tidak sesuai kenyataan hari lepas hari maka kegagalan sudah pasti terjadi,” kata Sebastian Seba, pesawah yang juga bertugas sebagai pembagi air.

Sebastian mengisahkan ketika belum dikerjakan saluran permanen dan pesawah berusaha membuat saluran sederhana apa adanya setiap tahun tatkala musim penghujan tiba.

“Mereka tidak pernah gagal panen setiap tahunnya,” tutur Sebastian.

Penyesalan Sebastian karena lokasi persawahan Ayomnanu II adalah satu satunya lokasi yang bisa ditanam satu tahun satu kali walau dengan hasil yang pas-pasan namun dapat menolong sokongan ketersediaan pangan rumah tangga untuk dapat dikonsumsi beberapa bulan.

“Dengan kondisi yang ada saat ini kami, hanya bisa melakukan tindakan penyelamatan seadanya untuk dapat memperoleh sedikit hasil dari keringat dan jerih lelah yang sudah dikerjakan,” urai Sebastian. (*Elli)

Penulis: zonaline news

Gambar Gravatar
Alamat Redaksi : Jalan Adisucipto Kompleks Perumahan RSS Oesapa Kota Kupang Blok P No 2 NTT

News Feed