oleh

Bukan Partai Dinasti , Perintis Demokrat TTS Liunokas Dukung KLB Moeldoko

Zonalinenews-TTS,- Pengurus inti Partai Demokrat TTS Simon Bin A. Liunokas, SH yang juga sebagai Perintis partai Demokrat TTS angkat bicara dan nyatakan dukungan penuh atas terpilihnya Moeldoko sebagai Ketua Demokrat Pusat hasil KLB Deliserdang.

Simon Liunokas mengisahkan bahwa pada tahun 2001, dirinya menerima mandat sebagai Ketua dengan tugas mendirikan Partai Demokrat dan membentuk Kepengurusan di tingkat kabupaten TTS.

Kemudian pada tahun 2002 ia mendapat Surat Keputusan (SK) Ketua DPC hingga 2006.

“Kepemimpinan Partai Demokrat di awal berdirinya sangat menghargai para pejuang di daerah. Bahkan mereka (Pimpinan Pusat) menganggap semua penerima mandat di Provinsi dan Kabupaten/Kota adalah Pendiri Partai Demokrat di daerah. Dibawah Ketua Umum Prof. Dr. Subur Budi Santoso dan para Pendiri sebanyak 99 orang, Partai Demokrat dikenal Nasionalis-Religius, bukan Partai Dinasti,” tegas Simon.

Kata Simon, tahun 2003 dirinya diikutkan ke Jakarta oleh Bapak Agustinus Gah, Ketua DPD Demokrat NTT kala itu, untuk mengambil atribut Partai berupa bendera dan baju kaos.

Lanjutnya, Dirinya masih ingat persis waktu itu Kantor DPP masih pakai rumah milik Pak Jhoni Allen Marbun di Jalan Pemuda No. 712 A Jakarta Timur.

Disana berlangsung pertemuan pembekalan kader dalam rangka menghadapi Pemilu 2004.

“Sejak itu saya kenal Bapak Max Sopacua, Bapak Ventje Rumangkang, Pak Jhoni Allen Marbun, dan Pak Henky Luntungan.

Pada tahun 2004, saya dapat undangan dari DPP untuk mengikuti pertemuan kader se-Indonseia di Hotel Kinasih, Bogor.

Dalam pertemuan tersebut, semua kader dari seluruh Indonesia meminta Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk masuk dalam Struktur,” jelas Simon.

Kebetulan waktu itu Menurut Simon, pak SBY menjabat Menpolhukam era Presiden Megawati Soekarnoputri. Namun Pak SBY tidak langsung bergabung saat itu.

“beliau hanya menitipkan nama ibu Ani Yudhoyono untuk masuk dalam kepengurusan DPP.

Pada tahun 2005, saya diundang lagi dalam Kongres I di hotel Grand Bali Beach Denpasar, Bali. Sebagai pemilik hak suara saya memilih Bapak Hadi Utomo sebagai Ketua Umum.

Jadi, saya cukup tahu sejarah perjalanan Partai Demokrat sejak awal. Saya tidak bisa membantah fakta bahwa Bapak SBY adalah tokoh besar yang membuat Demokrat Besar dan Jaya selama kurun waktu sepuluh tahun (2004-2014).

Sayangnya, menjelang akhir masa jabatan beliau, Partai Demokrat beralih menjadi “partai dinasti” dimana jabatan-jabatan strategis di DPP mulai dari Majelis Tinggi, Ketua Umum, Sekjen, Wakil Ketua Umum hingga Ketua BPOKK dikuasai oleh keluarga Cikeas,” tuturnya.

Ditambahkan Simon, namun dengan elektabilitas Partai Demokrat yang menurun drastis dalam dua kali Pemilihan Umum yakni Pemilu 2014 dan Pemilu 2019 menjadi alasan dirinya bergabung dengan KLB dan mendukung Pak Moeldoko menjadi Ketua Umum.

“Fakta ini pula yang mendorong saya untuk ikut berjuang mengembalikan Partai Demokrat ke tujuan pendirian awal. Langkah teman-teman penggagas KLB Deliserdang sudah tepat. KLB harus dilihat dengan akal sehat. KLB adalah bentuk evaluasi dan refleksi sehingga sangat berhikmat bila tidak saling menyalahkan apalagi saling serang.

Saya juga tidak setuju jika KLB diidentikan dengan “begal politik”. Kalau dibilang ini begal sebenarnya yang melakukan begal politik itu justru pimpinan Partai Demokrat di daerah<” tutur Simon.

Ia memberikan contoh konkrit, di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Ketua DPC seenak perut mengganti para Ketua DPAC tanpa melalui mekanisme sebagaimana diatur dalam AD/ART dan Peraturan Organisasi.

“Ini yang disebut begal, bukan KLB Deliserdang, “tutup Simon.(*Elli)

Penulis: zonaline news

Gambar Gravatar
Alamat Redaksi : Jalan Adisucipto Kompleks Perumahan RSS Oesapa Kota Kupang Blok P No 2 NTT

News Feed