oleh

Kisah Perjuangan Seorang Guru Honor, Mengabdi 10 Tahun dan Berkeinginan Jadi PNS

Zonalinenews-Kupang,- Dibesarkan dari keluarga yang sederhana membuat Melki Ayub Ckotnilis Suan (29), memiliki cita-cita yang besar untuk membahagiakan ke dua orang tuanya. Sebagai anak pertama dari tiga orang bersaudara dan tentu menjadi harapan utama kedua orang tuanya.

Bermodalkan ijazah SMA ia bertekad untuk mengikuti tes penerimaan prajurit Angkatan Darat, namun sayang takdirnya berkata lain, ia dinyatakan gugur. Kembali ke kampungnya di RT 04 RW 02 desa Oesusu kecamatan Takari, Pria yang akrab disapa Mekos itu, ditawari untuk mengajar sebagai tenaga honorer di salah satu SMP Negeri di desanya.

Dalam keadaan ekonomi yang menghimpit dan peluang kerja yang susah membuatnya untuk menerima tawaran tersebut walaupun dengan gaji yang tak seberapa.

Pada tanggal 05 Juli 2010, ia akhirnya mulai mengabdi sebagai tenaga honorer di SMP persiapan Negeri 6 Takari. Bermodalkan semangat ia mulai belajar beradaptasi dengan lingkungan baru.

Kepada wartawan (28/01/21), ia menceritakan bahwa waktu itu ia masih berusia 19 tahun dan tentu usia yang masih sangat muda bagi seorang pendidik, namun dari hasil beradaptasi dan belajar dari para seniornya itulah akhirnya, ia bisa menyesuaikan diri dengan baik.
Sebagai tenaga honorer memang gaji tak seberapa, Pria kelahiran Talaka, 31 Mei 1991 ini menceritakan bahwa waktu itu gajinya Cuma 25.000 per bulan dan untuk mencukupi kebutuhan setiap hari ia lebih memilih untuk berjualan pisang dan kelapa setelah selesai mengajar.

“waktu itu ojek juga, kan rumah dekat dengan pangkalan ojek, terus kalau ada jualan ya jual itu kebiasaan saya,” tuturnya.

Ia melanjutkan, sebagai seorang guru tantangan utama adalah masalah yang melibatkan orang tua murid hal itu dikarenakan jika terjadi suatu masalah di sekolah maka pengaduan dari orang tua adalah kepada guru dan guru bertanggungjawab penuh atas setiap masalah yang dilakukan oleh para siswa jika masih dalam jam pembelajaran sehingga tentu saja ia yang menjadi sasaran utama dari amukan orang tua siswa.

Beruntung ia selalu mendapat motivasi dari ibunda tercinta Hermiani Suan sehingga berkat doa dan dorongan itulah ia masih bertahan mengajar hingga saat ini.

Ia mengisahkan dirinya pernah dihinggapi rasa putus asa yang mendorong untuk berhenti mengajar karena melihat teman seangkatannya sudah menjadi PNS dan bahkan ada juga yang telah menjadi Kepala sekolah, namun menurutnya berhenti mengajar bukanlah sebuah jalan karena selain lapangan pekerjaan yang semakin susah, perjuangannya selama ini juga akan sia-sia walaupun dengan gaji yang kecil namun menjadi guru adalah tugas yang mulia.

Pada tahun 2012, Kata Melki sekolah tempatnya mengajar disahkan oleh pemerintah menjadi SMP Negeri 10 Takari, dan tahun 2016, perjuangan yang ia geluti dijawab melalui ijazah sarjana yang diperoleh dari Universitas Nusa Cendana jurusan PJOK dan kini berkat ijasah itu, upahnya sudah dihitung tiap jam mengajar di kali dengan Rp 10.000.

Semenjak memegang ijasah sarjana Melki mulai mengikuti Tes CPNS tapi hingga saat ini ia belum lulus namun Ia bertekad untuk terus berjuang hingga diakui negara sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil.

“Harapan saya ke depan agar tetap semangat seperti dulu dan bisa mendapat perhatian lebih serius dari pemerintah khususnya bagi guru honorer” ungkapnya.

Ia pun selalu yakin jika kerja kerasnya selama ini akan dibayar dengan sesuatu yang besar juga (*Adri/magang)

Penulis: zonaline news

Gambar Gravatar
Alamat Redaksi : Jalan Adisucipto Kompleks Perumahan RSS Oesapa Kota Kupang Blok P No 2 NTT