oleh

Metusalak Lakamau Tidak Pernah Tarik Laporan, Menurut Kapolres Pelapor Bersama Keluarga Antar Surat Pencabutan

Zonalinenews-Kupang, Kapolres Alor, AKBP Agustinus Christmas Tri Suryanto, SIK Jumat, (13/11/2020) dikonfirmasi wartawan via Wa terkait perkembangan penanganan laporan dugaan penganiayaan dan penghinaan yang diduga dilakukan oleh Bupati Alor, NTT, Amon Djobo terhadap salah satu warganya Metusalak Lakamau (62), warga Pui-Pui Kelurahan Welai Barat Kecamatan Teluk Mutiara Kabupaten Alor di Polres Alor pada 26 Oktober 2020, Kapolres Alor menjelaskan bahwa awal minggu ini pelapor dan keluarganya bersama penasihat hukum mendatangi penyidik Polres mangantarkan surat pencabutan laporan.

“Pagi Pak kapolres maaf menggangu, ijin komandan Penanganan Kasus penganiyaan dan Penghinaan terhadap Metusalak Lakamau (62) warga Welai Barat dengan terlapor Bupati Alor, Amon Djobo hingga kini perkembangan penanganannya sejauhmana ?. berapa saksi yang sudah diperiksa ?,”tanya wartawan via wa Jumat, (13/11/2020) pukul 07.06 Wita.

“Awal minggu ini pelapor dan keluarganya bersama penasihat hukum mendatangi penyidik di polres mengantarkan surat pencabutan laporan bro. Kami masih periksa kembali ybs utk menyampaikan keterangan ybs mencabut laporan tsb,” balas pesan wa Kapolres Alor Jumat, (13/11/2020) pukul 13.52 Wita.

Namun pernyataan Kapolres berbeda dengan pengakuan korban, Metusalak Lakamau (62) ketika dikonfirmasi Wartawan via telpon Jumat (13/11/2020) malam, Metusalak menyatakan bahwa dirinya tidak pernah mencabut laporan yang dibuatnya.

“baru-baru tanggal 3 itu saya dan kedua anak saya kesana dan ternyata berkasnya masih di polisi. dan pengacara tidak sama-sama dengan kita ,”tutur Metusalak.

Menurut Metusalak dirinya ke polres alor didimpingi kedua anaknya tidak ada penasihat hukum/pengacara yang mendampinginya.

Sementara itu, Adik korban, Arnold Lakamau pada kesempatan wawancara tersebut menegaskan kurang lebih seminggu lalu, kaka Metusalak memberi keterangan lanjutan di polisi karena polisi datang panggil. Namun surat menyangkut pencabutan berkas laporan tidak dicabut,”

“Tidak pernah ada tim penasihat hukum atau pengacara ataupun apa namanya yang pergi bersama kaka Metuslak pergi kesana (polisi),” ungkap Arnold.

Ketika wartawan menyampaikan bahwa berdasarkan keterangan Kapolres pelapor dan keluarganya bersama penasihat hukum mendatangi penyidik di polres dalam awal minggu ini mengantarkan surat pencabutan laporan, Menurut Arnold korban tidak mencabut laporan tersebut.

“Tidak ada mencabut laporan tersebut,”tegas Arnold.

Diberitakan sebelumnya Salah seorang oknum anggota Polres Alor Propinsi NTT, berinisial DD diduga memaksa korban Metusalak Lakamau untuk menadatangani surat pernyataan damai diatas materai 6 ribu. DD diduga memaksa setelah korban membuat laporan polisi atas kasus dugaan penganiayaan dan penghinaan dengan terlapor Amon Djobo, Senin 26 Oktober 2020. Demikian diungkapkan ketua DPRD Kabupaten Alor, Enny Anggrek ketika dikonfirmasi wartawan via telpon, Senin 2 November 2020 pagi terkait kasus dugaan penganiyaan dan penghinaan terhadap Metusalak Lakamau.

Menurut Enny berdasarkan data yang dihimpunnya, setelah korban menjalani pemeriksaan di polres Alor, ada oknum polisi berinisial DD diduga melakukan pemaksaan membuat surat pernyataan penyelesaian kasus tersebut damai diatas materai 6 ribu terkait laporan tersebut, padahal saksi-saksi belum diperiksa.

“Pada saat korban melapor ada oknum anggota polisi DD diduga memaksa korban untuk membuat surat pernyataan damai. kok bisa ya di alor korban sudah melapor terus karena masyarakat kecil dibodohi untuk membuat surat pernyataan damai,”beber Enny Anggrek.

Dikatakan Enny Anggrek, terkait tindakan oknum Anggota DD dirinya akan mengadukan persoalan ini ke Polda NTT dan Mabes Polri.

“Ini perbuatan hukum model apa ?. Korban baru saja selesai diperiksa lelah dan capai tiba-tiba diduga diintervensi untuk menandatangani surat pernyataan damai. Atas kejadian itu saya telpon Kapolres dan menanyakan kok bisa korban selesai membuat laporan diitervensi untuk penyelesaian secara kekeluargaan,” tegas Enny Anggrek.

Kapolres Alor AKBP Agustinus Chirismas Tri Suryanto, S.I.K dikonfirmasi via Wa, Selasa 3 November 2020 malam, terkait oknum anggota Polres Alor berinisal DD diduga memaksa Metusalak menandatangani surat pernyataan damai atas kasus yang dialami korban.

“Malam pak Kapolres ijin mau konfirmasi soal perkembangan penanganan kasus pengianiayaan dan penghinaan dengan korban Metusalak Lankamau. Berdasarkan informasi yang kami peroleh bahwa korban juga dipaksa oleh Anggota Polres Alor berinisial DD untuk mendatangi surat pernyataan damai usai membuat laporan polisi,” isi pesan WA wartawan ke Kapolres Alor.

Kapolres Alor AKBP Agustinus Chirismas Tri Suryanto, S.I.K via WA menjelaskan tidak benar informasi tersebut, mungkin dapat dikonfirmasi ulang kepada yg memberikan informasi.(*tim)

Penulis: zonaline news

Gambar Gravatar
Alamat Redaksi : Jalan Adisucipto Kompleks Perumahan RSS Oesapa Kota Kupang Blok P No 2 NTT

News Feed